Kewirausahaan ( Entrepreneurship)
atau Wirausaha adalah proses mengidentifikasi, mengembangkan, dan
membawa visi ke dalam kehidupan.Visi tersebut bisa berupa ide inovatif,
peluang, ataupun cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu. Hasil
akhir dari proses tersebut adalah penciptaan usaha baru yang dibentuk pada
kondisi risiko atau ketidakpastian.
Ciri-ciri dan Sifat kewirausahaan :
1. Percaya diri
2. Berorientasikan tugas dan hasil
3. Berani mengambil risiko
4. Kepemimpinan
5. Berorientasi ke masa depan
6. Jujur dan tekun
Sifat-sifat seorang wirausaha adalah:
1.
Memiliki sifat keyakinan,
kemandirian, individualitas, optimisme.
2.
Selalu berusaha untuk berprestasi,
berorientasi pada laba, memiliki ketekunan dan ketabahan, memiliki tekad yang
kuat, suka bekerja keras, energik dan memiliki inisiatif.
3.
Memiliki kemampuan mengambil risiko
dan suka pada tantangan.
4.
Bertingkah laku sebagai pemimpin,
dapat bergaul dengan orang lain dan suka terhadap saran dan kritik yang
membangun.
5.
Memiliki inovasi dan kreativitas
tinggi, fleksibel, serba bisa dan memiliki jaringan bisnis yang luas.
6.
Memiliki persepsi dan cara pandang
yang berorientasi pada masa depan.
7.
Memiliki keyakinan bahwa hidup itu
sama dengan kerja keras.
Tahap memulai untuk menjadi seorang wirausahawan
Tahap di mana seseorang yang berniat
untuk melakukan usaha mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan, diawali
dengan melihat peluang usaha baru yang mungkin apakah membuka usaha baru,
melakukan akuisisi, atau melakukan ‘franchising’.Tahap ini juga memilih jenis
usaha yang akan dilakukan apakah di bidang pertanian, industri, atau jasa.
- Tahap melaksanakan usaha
Dalam tahap ini seorang(wirausahawan
mengelola berbagai aspek yang terkait dengan usahanya, mencakup aspek-aspek:
pembiayaan, SDM, kepemilikan, organisasi, kepemimpinan yang meliputi bagaimana
mengambil risiko dan mengambil keputusan, pemasaran, dan melakukan evaluasi.
-Tahap mempertahankan usaha
Tahap di mana (wirausahawan)
berdasarkan hasil yang telah dicapai melakukan analisis perkembangan yang
dicapai untuk ditindaklanjuti sesuai dengan kondisi yang dihadapi
Pada dasarnya fakta bahwa jiwa
wirausaha di Indonesia masih lemah ditunjukkan dari masih banyaknya angka
pengangguran di Indonesia, terutama pengangguran terbuka pada penduduk yang
mengenyam Pendidikan Tinggi. Logikanya, setelah mengenyam pendidikan tinggi,
maka jiwa wirausaha mereka akan lebih terasah karena kognisi usaha yang makin
berkembang seiring dengan makin tingginya jenjang pendidikan, sehingga
kreativitasnya juga makin tajam.
Motivasi dalam kewirausahaan
meliputi motivasi yang diarahkan untuk mencapai tujuan kewirausahan, seperti
tujuan yang melibatkan pengenalan dan eksploitasi terhadap peluang bisnis.
Motivasi untuk mengembangkan usaha baru diperlukan bukan hanya oleh rasa
percaya diri dalam hal kemampuannya untuk berhasil, namun juga oleh
kemampuannya dalam mengakses informasi mengenai peluang kewirausahaan. Dalam
istilah yang lebih sempit, teori expectancy mengungkapkan bahwa
informasi yang spesifik dan periodik mengenai peluang kewirausahaan mungkin
meningkatkan harapan individu bahwa upaya kewirausahaan akan memberikan hasil,
dengan demikian akan meningkatkan motivasi.
Ada lima kategori teori motivasi
yaitu kebutuhan, penguatan, keadilan, harapan, dan
tujuan (goal). Dari kelima teori tersebut maka teori expectancy
dan teori goal merupakan model teori yang paling berguna dalam
memahami motivasi kewirausahaan. Dalam teori expectancy tersedia kerangka kerja
untuk memahami mengapa dan bagaimana beberapa orang memilih untuk menjadi
wirausahawan dan mengungkapkan bahwa serangkaian outcome dari wirusahawan dalah
lebih kompleks dan sebagian lainnya memiliki kemungkinan lebih kecil
dibandingkan dengan yang lain.
Dalam menjelaskan relevansi teori expectancy
maka diungkapkan bahwa wirausahawan mungkin saja tertarik pada situasi
ketidakpastian yang tinggi atau dapat membuat pilihan ketika mereka menghadapi
pilihan yang meragukan, karena jika dibandingkan dengan pra manajer pada bisnis
yang telah mapan, maka wirausahawan lebiih toleran dengan ketidakpastian.
Sedangkan proposisi mendasar dari teori goal adalah bahwa tujuan yang menantang
secara khusus (memberikan komitmen, umpan balik, dn pengetahuan yang memadai)
akan menghasilkan kinerja yang tinggi. Dengan demikian, teori goal menawarkan
penjelasan yang lebih bersifat langsung dengan motivasi kewirausahan
dibandingkan dengan teori expectancy, yang mengungkapkan bahwa
wirausahawan menyusun tujuan kewirausahan yang lebih tinggi divandingkan dengan
orang-orang yang tidak memulai usaha.
Goal theory merupakan teori yang dapat diuji dalam memprediksi kinerja
kewirausahaan. Dalam hal ini, wirausahawan yang memiliki tujuan yang lebih
tinggi akan memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk menjadikan organisasi
lebih mampu bertahan dan mampu tumbuh lebih besar dibandingkan dengan
wirausahawan yang memiliki tujuan yang lebih rendah.
Sumber : http://ekonomi.kompasiana.com/wirausaha/2013/10/01/motivasi-untuk-menjadi-seorang-wirausahawan-596760.html
http://ekonomi.kompasiana.com/wirausaha/2013/10/16/motivasi-kewirausahaan-595424.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar